I
LOVE YOU LIKE I LOVE A SONG
Anggarani
Prameswari Wijayanti
Hari
ini langit tampak mendung. Aku menatap keluar jendela kelas di sampingku. Cuaca
yang dingin membuat konsentrasi belajarku hilang. Aku melamun sambil menatap
keluar jendela. Tiba-tiba teguran dari guru yang sudah sangat ku kenal
menyerang gendang telingaku. Semua murid di dalam kelas menatapku tanpa heran. Aku
sudah sering mendapat hukuman karena tidak mengerjakan PR, melamun saat
pelajaran dan terlambat masuk sekolah. Semua jenis hukuman sudah kujalani,
seperti membersihkan toilet, mengepel koridor sekolah, berdiri di bawah tiang
bendera, dan masih banyak lagi.
“Dinda!
Sudah berapa kali kamu melamun saat pelajaran Ibu berlangsung?! Sekarang Ibu
tidak bisa toleransi lagi. Kerjakan soal ini di perpustakaan. Dan sebelum
pulang, kamu harus memberikannya pada Ibu!”
“Baik,
Bu.” Aku berdiri dan melangkah keluar kelas tanpa memprotes. Setidaknya aku
bebas dari pelajaran yang sangat membosankan ini. Aku berjalan menuju perpustakaan
sambil memandang buku yang kupegang. Aku berhenti sejenak dan membelalakkan
mata. Gila! Soal sebanyak ini bagaimana
bisa selesai dalam waktu empat jam. protesku dalam hati.
Aku
berjalan mengelilingi perpustakaan sambil berkacak pinggang. Buku yang aku cari
belum bisa kutemukan. Badanku pegal mondar-mandir terus. Aku memutuskan untuk
duduk dan istirahat sejenak. Lebih baik aku mendengarkan lagu dari Iphone-ku. Lagu
adalah sahabat terbaikku yang selalu menemaniku kapanpun dan dimanapun.
Aku
meletakkan buku yang kupegang di atas meja di depanku dan memasang earphone ke
telinga. Satu jam berlalu, ternyata aku tertidur di perpustakaan. Bel istirahat
baru saja berbunyi. Murid-murid sudah berdatangan ke perpustakaan. Untung saja
aku duduk di pojok yang sedikit tersembunyi.
Aku
kaget mengetahui di depanku ada seorang murid laki-laki. Dia sedang membaca
dengan buku yang menutupi wajahnya. “Apakah kamu tidak bisa minta ijin dulu
padaku kalau ingin duduk disini. Aku yang terlebih dahulu menempatinya.” Kataku
pada laki-laki di depanku.
“Tempat
ini bebas di duduki siapapun tanpa harus meminta ijin darimu.” Jawabnya ketus.
Sombong sekali dia.
Gerutuku dalam hati. Aku tidak mau menanggapinya lagi. Tersisa tiga jam lagi
untuk mengerjakan tugas Matematika membosankan ini. Aku menoleh pada buku yang
sedang di baca laki-laki di depanku ini. “Bukankah
itu buku yang sedang kucari sejak tadi.” Batinku.
“Hmmm.
Buku yang sedang kamu baca itu, dimana tempatnya?” tanyaku canggung.
“Di
rak yang terdapat tempelan Matematika. Di depan, sebelah tembok.” Jawabnya
dingin.
Aku
melangakah menuju rak Matematika. “Ah!Itu dia!” aku melompat untuk
mengambilnya. Sial! Melompat pun aku tetap tidak bisa meraihnya. Aku terduduk
lemas di kursi belakangku sambil menopang dagu. “Makanya jangan pendek-pendek.”
Aku
menoleh dan mendapati laki-laki tadi menyodorkan buku Matematika padaku. Sial!
Dia mengataiku pendek! Aku menerima buku itu dengan kasar. “Rak nya saja yang
terlalu tinggi. Bukan aku yang kependekan. Terimakasih.” Kataku sambil lalu.
***
Apa
dia selalu ke perpustakaan? batinku. Aku menyeruput es jerukku tanpa selera.
Lamunanku buyar karena teman-teman di sampingku berisik. Mereka sedang
berbisik-bisik sambil menatap pintu kantin. Aku mengikuti arah pandang mereka. Bukankah
itu laki-laki kemarin. “Siapa dia?” tanyaku pada Anya yang duduk di samping
kiri ku.
“Astaga,
Dinda! Kamu tidak tahu siapa dia? Dia ketua OSIS kita, Dimas. Makanya jangan di
kelas terus, Ketua OSIS kita saja kamu tidak tahu. Jangan-jangan kamu juga
tidak tahu siapa Kepala Sekolah kita?!”
Aku
tidak menghiraukan Anya. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Dimas. Namanya
Dimas. Wajahnya memang tampan. Tampan sekali. Seperti Lee Min Ho , aktor Korea
idolaku. Ah…Aku sudah benar-benar gila. Aku menghembuskan napas panjang dan melangkah
ke kelas. Tidak! Aku tidak bisa memikirkannya terus.
“Dinda!”
Aku menoleh. Bu Rika, Guru kesenian menuju ke arahku. “Kamu ingat tugas-tugas
yang belum kamu kerjakan?”
“Ingat.
Bu.” Jawabku lirih. Ternyata Bu Rika masih ingat tugas-tugas menyebalkan itu.
“Satu minggu lagi pentas seni akan diadakan. Ibu minta kamu menjadi panitia
untuk membantu pekerjan Dimas untuk mengganti tugas-tugas yang tidak kamu
kerjakan.”
“Dimas?!
Ketua OSIS sombong itu? Eh, maksud saya Ketua OSIS?” Bu Rika mengangguk dan
menyerahkan kertas-kertas yang tidak aku mengerti sama sekali. “Pulang sekolah
nanti, kamu temui Ibu di ruang kesenian.” Aku tidak bisa memprotes, karena Bu
Rika sudah pergi. Aku menghela napas dan melangkah ke kelas lagi.
***
Satu
bulan berlalu sejak pentas seni diadakan. Sejak saat itu aku jarang bertemu dengan Dimas. Aku berharap
bisa dekat dengannya lagi entah bagaimana caranya. Sering bertemu dan berada di
dekatnya membuatku merasa aneh bila jauh dengannya. Aku selalu gelisah
memikirkannya. Apalagi sehari tidak bertemu dengannya, membuatku uring-uringan.
Mungkinkah aku menyukainya? Percuma saja bila cintaku hanya bertepuk sebelah
tangan.
Aku
akan berusaha memendam perasaanku padanya. Dimas pantas mendapatkan yang lebih
baik dariku. Dia laki-laki yang sempurna dan punya segalanya. Sedangkan aku,
perempuan yang tidak mempunyai kelebihan apapun dan semua murid disini
mengenaliku dari kelakuanku yang buruk. Mengingat seringnya aku dihukum karena
perbuatanku itu. Kalau ada yang tahu aku menyukai Dimas, aku pasti akan
mendapat malu. Apa pantas aku yang tidak mempunyai kelebihan apapun mendapatkan
Dimas yang sempurna?
Dan
hari ini, tanpa sengaja aku bertemu dengan Dimas di perpustakaan dalam tempat
duduk yang sama lagi. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apakah aku harus
menyapanya atau tetap diam pura-pura tidak mengenalinya. Aku tidak bisa
berhenti mencintai Dimas sekalipun aku mencoba keras melakukannya. Dia selalu
berputar-putar di dalam pikiranku seperti sebuah lagu.
“Rupanya sekarang pelajaran Matematika menjadi
pelajaran yang kamu sukai.”
Aku
mengangakat wajah memandang Dimas. “Apa kabar, Dinda.” Dia tersenyum padaku.
Oh..Tuhan.. Bagaimana caranya tersenyum seperti itu. Senyum itu selalu membuat
damai hatiku. Aku ingin melihatnya setiap hari.
“Apa…kabar…juga?”
Jawabku canggung.
“Maaf
aku terlalu lama. Aku memang bodoh. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita
bertemu, dan aku tidak mempunyai keberanian mengungkapkannya.”
Lidahku
kelu. Aku tidak tahu harus menjawab apa. “Sebenarnya, aku juga menyukaimu.”
“Aku
tidak pernah menyangka ternyata kau juga menyukaiku. Dan apakah kau mau
menerima cintaku?” tanya Dimas tidak
percaya.
Aku
menunduk. “Tapi, aku tidak pantas untukmu. Kamu terlalu sempurna untukku.”
“Aku
membutuhkanmu untuk mewarnai hidupku. Kamu berbeda dengan perempuan yang aku
kenal selama ini, dan aku telah memilihmu. Jadi, kamu memang pantas untukku.”
Air
mataku meleleh. “Apakah kamu tidak malu berpacaran denganku?”
Dimas
menghapus air mataku. “Kenapa harus malu? Kamu istimewa bagiku, Dinda. Aku akan
bahagia bila kau menerima cintaku.”
“Aku..aku
menerima cintamu.” Air mataku meleleh lagi, kini semakin deras. Aku tidak
menyangka Dimas seromantis ini. Dia memberiku sebuah kalung berinisial nama
kami dan melingkarkannya di leherku. Dimas mengahapus air mataku dan
menggenggam tanganku.
Kami
berjalan menyusuri koridor. Semua murid menatap tangan kami yang bergandengan.
Dimas mengantarku ke kelas. “I love you like I love a song, Dimas.” Kataku
padanya saat kita berhenti di depan kelasku.
“Kamu
tahu, ini pertama kalinya kau menyebut namaku. Aku senang mendengarnya, Dinda.
Aku berjanji akan selalu menjagamu dan menjaga hubungan kita. Nanti aku akan
mengantarmu pulang.”
Di
kelas sampingku, Reina, wakil ketua OSIS memandangiku dengan wajah masam. Aku
tahu kalau Reina menyukai Dimas. Aku merasa tidak enak karena Reina
memandangiku tajam. Tapi aku tidak perlu khawatir, karena pasti Dimas akan
melindungiku.
Aku
tidak menyangka ini sebelumnya. Dimas adalah laki-laki yang sempurna. Dia
adalah mimpiku yang menjadi nyata. Aku terhipnotis oleh takdir. Takdirlah yang
mempertemukan kami berdua. Dan aku mencintai Dimas seperti aku mencintai sebuah
lagu. Lagu adalah duniaku, seperti Dimas juga duniaku. Lagu adalah hidupku
begitupun Dimas juga hidupku. Aku yakin, bersama Dimas aku akan menjadi lebih
baik.