Minggu, 07 September 2014

CERPEN ROMANCE





I LOVE YOU LIKE I LOVE A SONG
Anggarani Prameswari Wijayanti



Hari ini langit tampak mendung. Aku menatap keluar jendela kelas di sampingku. Cuaca yang dingin membuat konsentrasi belajarku hilang. Aku melamun sambil menatap keluar jendela. Tiba-tiba teguran dari guru yang sudah sangat ku kenal menyerang gendang telingaku. Semua murid di dalam kelas menatapku tanpa heran. Aku sudah sering mendapat hukuman karena tidak mengerjakan PR, melamun saat pelajaran dan terlambat masuk sekolah. Semua jenis hukuman sudah kujalani, seperti membersihkan toilet, mengepel koridor sekolah, berdiri di bawah tiang bendera, dan masih banyak lagi.
“Dinda! Sudah berapa kali kamu melamun saat pelajaran Ibu berlangsung?! Sekarang Ibu tidak bisa toleransi lagi. Kerjakan soal ini di perpustakaan. Dan sebelum pulang, kamu harus memberikannya pada Ibu!”
“Baik, Bu.” Aku berdiri dan melangkah keluar kelas tanpa memprotes. Setidaknya aku bebas dari pelajaran yang sangat membosankan ini. Aku berjalan menuju perpustakaan sambil memandang buku yang kupegang. Aku berhenti sejenak dan membelalakkan mata. Gila! Soal sebanyak ini bagaimana bisa selesai dalam waktu empat jam. protesku dalam hati.
Aku berjalan mengelilingi perpustakaan sambil berkacak pinggang. Buku yang aku cari belum bisa kutemukan. Badanku pegal mondar-mandir terus. Aku memutuskan untuk duduk dan istirahat sejenak. Lebih baik aku mendengarkan lagu dari Iphone-ku. Lagu adalah sahabat terbaikku yang selalu menemaniku kapanpun dan dimanapun.
Aku meletakkan buku yang kupegang di atas meja di depanku dan memasang earphone ke telinga. Satu jam berlalu, ternyata aku tertidur di perpustakaan. Bel istirahat baru saja berbunyi. Murid-murid sudah berdatangan ke perpustakaan. Untung saja aku duduk di pojok yang sedikit tersembunyi.
Aku kaget mengetahui di depanku ada seorang murid laki-laki. Dia sedang membaca dengan buku yang menutupi wajahnya. “Apakah kamu tidak bisa minta ijin dulu padaku kalau ingin duduk disini. Aku yang terlebih dahulu menempatinya.” Kataku pada laki-laki di depanku.
“Tempat ini bebas di duduki siapapun tanpa harus meminta ijin darimu.” Jawabnya ketus.
Sombong sekali dia. Gerutuku dalam hati. Aku tidak mau menanggapinya lagi. Tersisa tiga jam lagi untuk mengerjakan tugas Matematika membosankan ini. Aku menoleh pada buku yang sedang di baca laki-laki di depanku ini. “Bukankah itu buku yang sedang kucari sejak tadi.” Batinku.
“Hmmm. Buku yang sedang kamu baca itu, dimana tempatnya?” tanyaku canggung.
“Di rak yang terdapat tempelan Matematika. Di depan, sebelah tembok.” Jawabnya dingin.
Aku melangakah menuju rak Matematika. “Ah!Itu dia!” aku melompat untuk mengambilnya. Sial! Melompat pun aku tetap tidak bisa meraihnya. Aku terduduk lemas di kursi belakangku sambil menopang dagu. “Makanya jangan pendek-pendek.”
Aku menoleh dan mendapati laki-laki tadi menyodorkan buku Matematika padaku. Sial! Dia mengataiku pendek! Aku menerima buku itu dengan kasar. “Rak nya saja yang terlalu tinggi. Bukan aku yang kependekan. Terimakasih.” Kataku sambil lalu.
***
Apa dia selalu ke perpustakaan? batinku. Aku menyeruput es jerukku tanpa selera. Lamunanku buyar karena teman-teman di sampingku berisik. Mereka sedang berbisik-bisik sambil menatap pintu kantin. Aku mengikuti arah pandang mereka. Bukankah itu laki-laki kemarin. “Siapa dia?” tanyaku pada Anya yang duduk di samping kiri ku.
“Astaga, Dinda! Kamu tidak tahu siapa dia? Dia ketua OSIS kita, Dimas. Makanya jangan di kelas terus, Ketua OSIS kita saja kamu tidak tahu. Jangan-jangan kamu juga tidak tahu siapa Kepala Sekolah kita?!”
Aku tidak menghiraukan Anya. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Dimas. Namanya Dimas. Wajahnya memang tampan. Tampan sekali. Seperti Lee Min Ho , aktor Korea idolaku. Ah…Aku sudah benar-benar gila. Aku menghembuskan napas panjang dan melangkah ke kelas. Tidak! Aku tidak bisa memikirkannya terus.
“Dinda!” Aku menoleh. Bu Rika, Guru kesenian menuju ke arahku. “Kamu ingat tugas-tugas yang belum kamu kerjakan?”
“Ingat. Bu.” Jawabku lirih. Ternyata Bu Rika masih ingat tugas-tugas menyebalkan itu. “Satu minggu lagi pentas seni akan diadakan. Ibu minta kamu menjadi panitia untuk membantu pekerjan Dimas untuk mengganti tugas-tugas yang tidak kamu kerjakan.”
“Dimas?! Ketua OSIS sombong itu? Eh, maksud saya Ketua OSIS?” Bu Rika mengangguk dan menyerahkan kertas-kertas yang tidak aku mengerti sama sekali. “Pulang sekolah nanti, kamu temui Ibu di ruang kesenian.” Aku tidak bisa memprotes, karena Bu Rika sudah pergi. Aku menghela napas dan melangkah ke kelas lagi.
***
Satu bulan berlalu sejak pentas seni diadakan. Sejak saat itu  aku jarang bertemu dengan Dimas. Aku berharap bisa dekat dengannya lagi entah bagaimana caranya. Sering bertemu dan berada di dekatnya membuatku merasa aneh bila jauh dengannya. Aku selalu gelisah memikirkannya. Apalagi sehari tidak bertemu dengannya, membuatku uring-uringan. Mungkinkah aku menyukainya? Percuma saja bila cintaku hanya bertepuk sebelah tangan.
Aku akan berusaha memendam perasaanku padanya. Dimas pantas mendapatkan yang lebih baik dariku. Dia laki-laki yang sempurna dan punya segalanya. Sedangkan aku, perempuan yang tidak mempunyai kelebihan apapun dan semua murid disini mengenaliku dari kelakuanku yang buruk. Mengingat seringnya aku dihukum karena perbuatanku itu. Kalau ada yang tahu aku menyukai Dimas, aku pasti akan mendapat malu. Apa pantas aku yang tidak mempunyai kelebihan apapun mendapatkan Dimas yang sempurna?
Dan hari ini, tanpa sengaja aku bertemu dengan Dimas di perpustakaan dalam tempat duduk yang sama lagi. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apakah aku harus menyapanya atau tetap diam pura-pura tidak mengenalinya. Aku tidak bisa berhenti mencintai Dimas sekalipun aku mencoba keras melakukannya. Dia selalu berputar-putar di dalam pikiranku seperti sebuah lagu.
 “Rupanya sekarang pelajaran Matematika menjadi pelajaran yang kamu sukai.”
Aku mengangakat wajah memandang Dimas. “Apa kabar, Dinda.” Dia tersenyum padaku. Oh..Tuhan.. Bagaimana caranya tersenyum seperti itu. Senyum itu selalu membuat damai hatiku. Aku ingin melihatnya setiap hari.
“Apa…kabar…juga?” Jawabku canggung.
“Maaf aku terlalu lama. Aku memang bodoh. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu, dan aku tidak mempunyai keberanian mengungkapkannya.”
Lidahku kelu. Aku tidak tahu harus menjawab apa. “Sebenarnya, aku juga menyukaimu.”
“Aku tidak pernah menyangka ternyata kau juga menyukaiku. Dan apakah kau mau menerima cintaku?” tanya Dimas  tidak percaya.
Aku menunduk. “Tapi, aku tidak pantas untukmu. Kamu terlalu sempurna untukku.”
“Aku membutuhkanmu untuk mewarnai hidupku. Kamu berbeda dengan perempuan yang aku kenal selama ini, dan aku telah memilihmu. Jadi, kamu memang pantas untukku.”
Air mataku meleleh. “Apakah kamu tidak malu berpacaran denganku?”
Dimas menghapus air mataku. “Kenapa harus malu? Kamu istimewa bagiku, Dinda. Aku akan bahagia bila kau menerima cintaku.”
“Aku..aku menerima cintamu.” Air mataku meleleh lagi, kini semakin deras. Aku tidak menyangka Dimas seromantis ini. Dia memberiku sebuah kalung berinisial nama kami dan melingkarkannya di leherku. Dimas mengahapus air mataku dan menggenggam tanganku.
Kami berjalan menyusuri koridor. Semua murid menatap tangan kami yang bergandengan. Dimas mengantarku ke kelas. “I love you like I love a song, Dimas.” Kataku padanya saat kita berhenti di depan kelasku.
“Kamu tahu, ini pertama kalinya kau menyebut namaku. Aku senang mendengarnya, Dinda. Aku berjanji akan selalu menjagamu dan menjaga hubungan kita. Nanti aku akan mengantarmu pulang.”
Di kelas sampingku, Reina, wakil ketua OSIS memandangiku dengan wajah masam. Aku tahu kalau Reina menyukai Dimas. Aku merasa tidak enak karena Reina memandangiku tajam. Tapi aku tidak perlu khawatir, karena pasti Dimas akan melindungiku.
Aku tidak menyangka ini sebelumnya. Dimas adalah laki-laki yang sempurna. Dia adalah mimpiku yang menjadi nyata. Aku terhipnotis oleh takdir. Takdirlah yang mempertemukan kami berdua. Dan aku mencintai Dimas seperti aku mencintai sebuah lagu. Lagu adalah duniaku, seperti Dimas juga duniaku. Lagu adalah hidupku begitupun Dimas juga hidupku. Aku yakin, bersama Dimas aku akan menjadi lebih baik.

Minggu, 29 Juni 2014

Lirik Lagu Avril Lavigne-Rock N Roll


LIRIK LAGU
kali ini saya mau posting lirik lagu dari penyanyi favorit saya :)
Cekidot :D

AVRIL LAVIGNE – ROCK AND ROLL


Let em know that we’re still rock ‘n’ roll

Verse 1 :
I don’t care about my makeup
I like it better with my jeans all ripped up
Don’t know how to keep my mouth shut
You say so what (What)

I don’t care if I’m misfit
I ike it better than the hipster bull s***
I am a mother f****** princess
You still loove me

Pre Chrous :
Some some how
It’s a little different when
I’m with you
You know what i really am
All about
You know how it really goes
Oh oh oh oh yea

Some some way
We’ll be getting out of this
Town one day
You’re the only that I
Want with me
You know how the story goes
Oh oh oh

Chrous :
When it’s you and me
We don’t need no one to tell us who to be
We’ll keep turning up the radio
What if you and I
Just put up a middle finger to the sky
Let em know that we’re still rock ‘n’ roll
Rock ‘n’ roll
Hey hey hey
Rock ‘n’ roll
Hey hey hey

Verse 2 :
Don’t get a bad attitude dude
I aint ever gonna cover up that tattoo
I might have a couple issues
You say me too (yeah)

Don’t care about reputation
Must be living in the wrong generation
This is your invitation
Let’s get wasted

Pre Chrous :
Some some how
It’s a little different when
I’m with you
You know what I really am
All about
You know how the story really goes
Oh oh oh

** Back to Chrous 3x **

Kamis, 15 Mei 2014

JUAL NOVEL SECOND TAPI BAGUS

Hai hai visitors :) perkenalkan nama saya Anggarani Prameswari Wijayanti. saya tinggal di Tulungagung-Jawa Timur. saya ingin menjual beberapa koleksi novel saya :)
bagi yang berminat bisa mencantumkan nama,alamat lengkap,no hp,judul novel di :
fb : Anggarani Prameswari Wijayanti
twitter : dyana_apw
e-mail : avril_prameswari@yahoo.com

ini dia novel sayaaaaaa :) meskipun tidak baru, tetapi masih bagus kok :) tidak cacat,sobek,ataupun kusut :)


Harga-harga novel ini belum termasuk ongkir ke kota kalian yaaa :)
1. Project Paris-Lisa Braham Rp 35.000
2. Spring in London-Ilana Tan Rp 35.000
3. Musim Dingin di Osaka-Rin Akizakura Rp 20.000
4. RETURN_Elvira Natali Rp 35.000
5. Under the Same Sky that Day-Mimosa Hana Rp 20.000